Jumat, 08 Maret 2013

Risalah Cinta Dan Pohon Masa Depan Di Halaman Sekolah

Risalah Cinta dan Pohon Masa depan di Halaman Sekolah

Di halaman sekolah, sebatang pohon tumbuh
Bercabang impian, berdaun bintang-bintang
Di setiap Senin pagi, ketika berupacara bendera
anak-anak memandang pohon itu sambil
menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Indonesia Raya merdeka! Merdeka!
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya

Ada anak menyanyikan lagu itu seperti tak merdeka. Dari kepalanya berhamburan impian-impian seperti gelembung udara yang terbang dan kemudian pecah di udara terbuka.

Di dalam kelas, bapak guru selalu berkat kepada mereka, "Ayo, tanamlah  olehmu Pohon Masa Depan!"
Ibu guru selalu bilang, "Ayolah, tanam Pohon Kemerdekaan. Biar bercecabang jadi ceritadi halaman masa depan. Biar suatu sat kamu bisa bersandar di keteduhan dan kekukuhan cabang-cabangnya, biar suatu saat kamu lihat burung-burung dan kupu-kupu membikin rumah dalam cinta dan bahagiamu."

"Pohon apa, Bu?"
"Pohon Masa Depan."
"Pohon Masa Depan?"
"Ya, Pohon Masa Depan. Pohon Kemerdekaan."

Aneh, mereka belum pernah dengar nama pohon itu. Lalu, mereka cari nama itu di dalam buku, di dalam kamus, di perpustakaan. Tetapi, mereka atak pernah menemukan nama pohon itu.

"Bu Guru, Pak Guru! Seluruh buku telah kubaca, seluruh perpustakaan telah kudatangi, tetapi kami tak menemukan nama pohon itu." Lalu pak guru dan bu guru memandang mereka seperti gugusan hujan, seperti memandang bukit-bukit nun jauh di desa-desa.
"Carilah terus! Sampai kamu temukan pohon itu, maka belajarlah dan siapkanlah bagaimana cara mengolah tanah, bagaimana caranya mencintai kehidupan."

 Anak-anak itupun akhirnya kembali memasuki perpustakaan-perpustakaan. Mereka buka lagi buku-buku dengan melihat bab-bab dan rumus-rumusilmu pengetahuan.

Demikianlah setiap hari mereka baca halaman masa depan. Mereka menuliskannya dan menghafalkan huruf-huruf baru. Lalu mereka saksikan ilmu pengetahuan tumbuh bercecabang dari satu buku ke buku lain, dari satu pohon ke pohon yang lain.Bunga-bunga mekar dalam tatapan matahari bermetamorfosis dan berfotosintesis dalam pikiran mereka. Kupu-kupu dan burung-burung hinggap membikin sarang di dalam hati mereka. Pohon-pohon muda tumbuh menjalin masa depan dengan kesuburan humus yang mereka ciptakan.

Setiap hari, di sekolah, mereka jadi pemimpi yang mengharapkan pohonnya masing-masing. Diantara mereka ada yang bertanam pohon-pohon kecil, pohon-pohon besar, berbuah dan tak berbuah. Ada juga yang suka pada bunga. Ada juga lelaki malas yang hanya menanam pohon dengan mengharap pada cuaca. Ada perempuan genit yang hanya menyukai bunga dan berharap suetu hari jadi artis.

"Aku ingin menanam pohon yang dari cabang-cabangnya berjatuhan tetesan getah!" kata seseorang.
"Aku ingin menanam pohon yang dari daun-daunnya menguap bau surga."
"Aku ingin menanam pohon yang tangkai-tangkainya dipenuhi buah."

"Ah, kalau aku, sih, suka bunga. Jadi, kutanam saja bunga, biar dunia ini tetap cantik."
"Aku ingin ...."
"Sudahlah! Ayo, tanam olehmu pohon apa saja!"

Mereka olah tanah bumi sambil bernyanyi, “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam pohon di kebun kita.”
Mereka olah tanah bumidengan gembira, “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam pohon di kebun kita.”
Mereka olah tanah bumi dengan berharap panen di suatu saat, “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam pohon di kebun kita.”

Lalu, mereka siapkan doa, mereka siapkan gembur tanah dan aliran air, udara dan cuaca.

Di awal musim, tangkai-tangkai daun tumbuh di dalam pikiran mereka. Bunga-bunga mekar. Di halaman-halaman buku yang mereka baca, mereka selalu temukan satu bunga dan satu daun. Dan pada malam hari, ketika mereka buka halaman-halaman baru, mereka lihat bunga-bunga tumbuh dan hidup pada setiap kalimat dan paragraf. Jadi ladang dan kebun yang luas.

Bertahun-tahun mereka tanam pohon itu dalam hati dan pikiran mereka. Di kelas yang sunyi dan gaduh, di kelas yang bersih dan kotor. Lalu, kita lihat mereka menjadi penanam dan penumbuh yang baik. 

Suatu hari, di dalam kelas seorang anak berkat, “Pak Guru, Bu Guru! Saya ingin menciptakan pohon baru. Pohon yang tidak dipunyai oleh siapapun!”
Ibu dan bapak guru itu menjawab, “Ciptalah pohon itu! Ayo, lakukanlah!”
Tetapi, diantara bapak dan ibu guru itu menjawab, “Jangan! Kau hanya boleh menanam pohon sesuai dengan petunjuk buku.”
“Kenapa?”
“Ya, harus begitu!”

Tetapi, anak itu memiliki impian yang keras kepala. Malam selalu membawa ia pada luas langit dan hamparan bumi di negeri-negeri jauh. Dalam mimpinya itu ia lihat pohon-pohon yang tak pernah dilihat. Ia temukan bunga-bunga yang tak pernah ditemukan di negerinya sendiri.

“Pak Guru, Bu Guru! Aku ingin menciptakan pohon baru!”
“Tidak boleh! Kamu jangan menjadi pembangkang.”
“Tetapi, aku hanya ingin pohon yang ada dalam mimpiku.”
“Tidak boleh! Kamu hanya boleh menanam pohon yang benihnya telah kami siapkan.”
“Tetapi, aku ingin ….”
“Heh, Pembangkang!” Guru itu kemudian menggebrak meja.
“Aku telah tiga puluh dua tahun mengajar. Kamu mau jadi jagoan, mau merasa sok pintar? Keluar kamu! Keluar!”
Anak itu pun keluar.

Bertahun-tahun, anak yang menginginkan pohon itu menjadi pemurung. Ia merindukan pohon impiannya. Ia merasa bahwa dirinya bersama seluruh pohon impiannya tak pernah tumbuh. Tak pernah diberi kesempatan untukmekar dan berbuah. Ketika ditanya apa cita-citanya, ia kemudian menjawab, “Aku ingin menjadi demonstran.”

Ketika keluar sekolah dan tak melihat pohon impiannya, ia tebas semua hutan yang bisa ditebas, ia bakar seluruh pohon yang bisa dibakar. Ia hancurkan apa yang bisa dihancurkan. Di kota-kota, ia tumbuhkan api dan mencipta kerusuhan. Ia runtuhkan gedung dengan lemparan batu dan mesiu. Ia kenang pohon impiannya yang hilang. Ia kenang kesuburan tanah dan hijau daun dalam hatinya. Dan dalam pohon-pohon tumbang, dalam reruntuhan kota, ia tulis graffiti :

“Aku kini memimpikan pohon yang tumbuh dari api!”

Rabu, 27 Februari 2013

Surat Untuk Seseorang Yang (Dulu) Terbiasa Denganku Disetiap Waktu



Bukan Puisi :

Seandainya semua bisa terulang kembali
Waktu pertama kali kita sehati
Saat kau bilang hanya aku yang kau cintai
Saat kau belai rambutku perhelai
Saat kau sentuh jemariku dan aku terbuai

Manis sekali..
Hampir aku tidak tahu rasanya pahit
Tapi saat aku sedang memikirkanmu
Telepon genggamku muncul namamu
Aku fikir kau rindu padaku
Ternyata kau memutuskan hubungan saat itu

Seketika itu juga aku tahu rasanya sakit
Rasanya seperti tenggelam dalam kopi pahit
Tuhan.. aku tak rela cintaku berakhir
Tunjukan padaku bahwa ini hanya lelucon kejutan
Tapi aku tahu ini bukan ulang tahunku atau sesuatu hal yang bisa dirayakan

Aku berharap kau sedang bernyanyi disana
Dan aku manari dengan syairnya
Tapi apa kau merasa disana?
Segala hal yang berkecamuk dalam hatiku yang merana
Tuhan.. aku benar benar menetas
Aku tidak dalam cangkang kebahagiaanku lagi
Rasanya seperti kehilangan separuh nafas
Sesak sekali..

Sayangnya kamu tidak merasakan hal yang aku rasa
Mungkin sekarang kamu sibuk memeluk yang kamu cinta
Tapi aku malah menangisi hubungan lalu
Padahal tak sedikitpun kau mengingat tentang itu

Padahal aku sadar
Cinta yang dulu terjalin kini sudah berakhir
Tapi kenapa tidak ada ucapan terakhir?
Sejenak menatap mataku dulu
Atau sejenak merasakan air mata karna menangisimu
Agar kamu tahu
Karna aku terbiasa denganmu dulu disetiap waktu

Tertanda: Sirli aprilia candra kirana

Rabu, 20 Februari 2013

Kamis, 31 Januari 2013

Ceritakanlah masa abu abumu pada yang lain kawan



Mungkin tinggal menghitung hari kita akan keluar dari gerbang sekolah kita, dengan berlanjut melangkah ke masa depan dengan pilihannya masing masing. Padahal sepertinya baru kemarin kita saling kenal. Saat kita mengenakan dandanan aneh dengan tampang bodoh yang mau aja disuruh kakak kakak senior. Padahal  baru kemarin kita malas malasan dikelas, males ngerjain pr, males ngerjain tugas, males nyatet catetan dipapan tulis, males berangkat pagi, males dihukum gara gara telat, males dengerin guru nerangin pelajaran dan kita sibuk sama handphone, ipad dan earphone kita masing masing. Padahal baru kemarin kita marahan gara gara alasan kecil yg sebenarnya bisa diselesaikan, baru kemarin kita saling omon omongan dibelakang. Tapi sekarang?!!!! Kita akan melepas genggaman kita. Meskipun salah satu diantara kita ada yg saling membenci tp kita sedih juga melepas pertemanan selama 3tahun yg tanpa terasa sudah didepan mata.
                Mungkin suatu saat kita merindukan seragam kita, merindukan suasana pagi disekolah, merindukan ocehan guru, merindukan lirik lirik seseorang yg kita suka, merindukan gila gilaan dikelas, merindukan marahan dengan alasan gak jelas, merindukan mengerjakan PR disekolah, merindukan contek contekan disaat ulangan, merindukan pacaran disekolah dan merindukan hal hal yg kita suka dan kita benci disekolah yang nantinya akan menjadi cerita dan kesan yang mendalam untuk kita bagi ke orang lain, anak dan cucu kita mungkin.
                Teman.. meskipun kalian nyebelin tp percayalah sebenarnya kita memang saling sayang , buktinya kalau ada perlombaan kelas kita saling kompak dan melupakan masalah yang ada. Teman... ceritakanlah masa abu abumu pada orang lain, anakmu dan cucumu betapa menariknya masa sekolahmu.dan semoga kita dapat mencapai keinginan kita masing masing dan bisa menyongsong masa depan yg lebih baik.
                Berikut ini adalah sebuah lirik lagu yang mungkin pas dengan perjalanan kita




KITA SELAMANYA

eiyo... it's not the end, it's just beginning


ok... detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario... eyo... baru mulai diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori crita cinta aku, dia dan kamu


saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history


bergegaslah, kawan... tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat... kita untuk slamanya!

satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat didalam hati
karena kau berharga dalam hidupku, teman
untuk satu pijakan menuju masa depan


saat duka bersama, tawa bersama
berpacu dalam prestasi... hal yang biasa
satu persatu memori  terekam
didalam api semangat yang tak mudah padam
kuyakin kau pasti sama dengan diriku
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
kawan... kau tahu, kawan... kau tahu kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan


bergegaslah, kawan... tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan dan saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
kenanglah sahabat...




Salam abu-abu
SIRLI APRILIA CANDRA KIRANA :)